Mengapresiasi Kelelahan Pemimpin

Home / Kopi TIMES / Mengapresiasi Kelelahan Pemimpin
Mengapresiasi Kelelahan Pemimpin Dr. Basrowi, M.Pd. M.E.sy.,  Pengamat Kebijakan Publik.

TIMESKLATEN, JAKARTA – Melihat berita penangangan covid-19 dari berbagai negara termasuk di dalam negeri, hati terasa teriris. Mayoritas pemimpin negara yang jumlah pasien positif Covid-19-nya masih banyak, terlihat sangat lelah, kalau tidak boleh dikatakan frustasi.  Termasuk presiden Joko Widodo, para gubernur dan bupati/walikota juga mengalami beban bental dan moral yang sangat berat. Di sinilah mengapa kita patut mengapresiasi pemimpin yang telah kelelahan dalam penanganan pandemi Covid-19.

Sebagai aparatur negara, mereka akan berusaha memberi pelayanan kepada masyarakat secara prima atau bahkan summa-excellent, namun ketika kejenuhan telah menyelimuti mereka, maka proses penanganan Covid-19 seperti berjalan di tempat. Hal itulah yang membuat Presiden Joko Widodo (29/6/20) menjadi gundah dan berbicara tegas, bahkan menakut-nakuti para Menterinya, termasuk kepala lembaga dan badan untuk di-reshuffle.

Para menteri terkait penangangan Covid-19 pun tidak luput dari kondisi psikologis yang demikian. Mereka berada dalam posisi yang sangat berat, di tengah para staff-nya yang kian lelah, jenuh, dan frustasi. 

Bawahan yang sudah jenuh, setiap diberi tugas oleh atasan, hanya akan menjawab satu kata ‘siap’. Tetapi, begitu mereka ditagih atau ditanyakan progressnya, akan menjawab masih berjalan di tempat. Begitu ditanyakan kedua kalinya, mereka akan menjawab sudah ada kemajuan tapi baru sedikit, dan ada beberapa kendala teknis di lapangan. 

Ketika para staff sudah mengatakan demikian, berarti mereka sesungguhnya sudah sangat lelah. Laksana petarung, mereka telah berjuang selama sekian ronde, tidak ada jeda yang berarti untuk istirahat. Lelah fisik masih bisa diatasi dengan supplement, tetapi lelah otak atau pikiran tidak ada yang bisa memaksakan kecuali refreshing. 

Rakyat yang bandel-bandel dalam menerapkan protokol kesehatan juga telah menyebabkan para pemimpinnya frustasi. Kewibawaan mereka telah dikalahkan oleh ketidakpatuhan rakyatnya yang sangat bernafsu untuk tetap menjalankan roda ekonomi tanpa dilandasi kesadaran tinggi dalam menerapkan protokol kesehatan. 

Saat inilah seluruh masyarakat harus patuh sebagai bentuk apresiasi kepada para pemimpin yang telah kelelahan dalam penanganan pandemi Covid-19, bukan malah ngeyel, mbandel, dan tidak peduli dengan protokol kesehatan. 

3L: Lelah, Letih, dan Lesu 

Apa yang dilakukan oleh Presiden yang mengancam hendak mencopot jabatan, merupakan salah satu cambukan agar para menterinya dapat bekerja lebih bersemangat lagi. Presiden memilih metode itu dalam memompa semangat, karena semua orang pada dasarnya sangat mengharapkan jabatan tinggi, sehingga ketika mereka diancam akan dicopot jabatannya, mereka akan dengan segera memperbaiki kinerjanya dengan cara apapun termasuk menekan bawahannya. Yang penting jabatanya aman. 

Risma yang bersujud di kaki petugas kesehatan juga menunjukkan kelelehan yang luar biasa, kalau tidak boleh dikatakan telah frustasi dalam menangani kasus pasien positif Covid-19 yang setiap hari jumlahnya selalu meningkat. Koordinasi yang telah dilakukan belum mampu menghasilkan perbaikan sesuai ekspektasi. Dana telah tersalurkan habis. Tenaga telah dicurahkan habis. Pikiran siang malam telah terkuras habis untuk mengerem kasus positif covid-19 yang terus bergerak naik.   

Berbagai upaya pemimpin, baik melalui sosialisasi, himbauan, dan pengawasan di lapangan tidak dipatuhi secara maksimal oleh rakyatnya. Gayung tidak bersambut. Rakyat sama sekali tidak menghiraukan apa yang dikatakan pimpinannya. Rakyat berjalan sendiri-sendiri. Tetapi begitu mereka sudah di rumah sakit, baru memelas minta belas kasih pimpinan untuk menggratiskan biaya rumah sakit, dan kalau perlu meminta kompensasi karena tidak bisa bekerja.  

Menghadapi rakyat yang demikian, siapa pun pemimpinnya akan pusing tujuh puluh keliling. Untung saja, jidad pemimpin hanya satu, seandinya punya tiga, pasti semuanya dipegang erat-erat agar tidak pecah. 

Menjadi pemimpin memang terlihat enak, manakala seluruh kondisi berjalan normal, bahkan selalu berkeinginan ‘memperpanjang’ ke periode kedua. Tetapi dalam kondisi pandemi Covid-19, semua pemimpin menjadi tidak senyaman kondisi pertama.    

Di kantor, melihat bawahan dan staff sudah lesu, lelah, dan letih (3L). Di lapangan, melihat rakyatnya semakin tidak bisa dikendalikan. Akhirnya, pemimpin hanya bisa marah-marah sendiri. Kepada siapa dia marah, mengapa dia marah, dan sampai kapan dia akan marah, menjadi tidak jelas. 
Padahal penyebabnya hanya satu, corona yang masih bandel, tidak mau bersahabat dengan manusia, dan  terus menerus menyebar dan menyerang manusia yang tidak disiplin. 

5 Langkah jitu agar tidak stress dan frustasi 

Setidaknya ada lima langkah jitu yang dapat dilakukan pemimpin agar tidak stress dan frustasi dalam menghadapi covid-19 yang tidak kunjung tuntas. Pertama, pemimpin harus mampu membangun komunikasi secara intensif dengan bawahan dan rakyat. Komunikasi yang baik akan mampu mengurangi bahkan menghilangkah stress pemimpin, bawahan, dan rakyat. 

Kedua, berikan insentif kepada para staff sesuai aturan yang berlaku, jangan sampai tertunda. Bayarlah upah sebelum keringat mongering. Hal itu akan menjadi motivasi tersendiri bagi para bawahan dan staff dalam menjaga semangat. Begitu juga hak untuk rakyat berikanlah bantuan dengan tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat pemanfaatan. 

Ketiga, cairkan anggaran sesuai prosedur secara cepat, tepat dan akuntabel. Langkah extraordinary harus diambil pada saat menangani pandemi, sehingga seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan dapat tersedia secara mencukupi. Begitu juga anggaran yang secara khusus disiapkan untuk rakyat pada periode II dan III, agar dapat dicairkan dengan segera, jangan sampai rakyat menunggu telalu lama.     

Keempat, berikanlah contoh riil di lapangan bukan hanya berbicara di belakang meja. Pemimpin akan mampu membuat perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi dengan baik manakala tidak duduk manis di belakang meja. Merekah harus sigap di lapangan dalam rangka memberikan motivasi kepada rakyat baik dari depan, samping maupun dari belakang.  

Kelima, pempimpin harus mampu menyelaraskan gas dan rem dalam memompa motivasi bawahan. Hal itu perlu dilakukan agar, bawahan tidak merasa di gas terus, sementara tidak pernah di rem dengan berbagai hadiah, rekreasi, rileksasi, dan motivasi. Terhadap rakyat pun, gas dan rem antara ekonomi dan kesehatan harus diselaraskan agar keduanya dapat berjalan seiringan tanpa ada kendala. 

Apabila kelima langkah tersebut dilakukan dengan baik oleh pemimpin, niscaya akan mampu memberikan motivasi kepada bawahan dan masyarakat. Rakyat pun akan tidak segan-segan memberikan apresiasi dalam bentuk kepatuhan dalam melaksanakan seluruh himbauan dan anjuran pemerintah. 

***

*)Oleh: Dr. Basrowi, M.Pd. M.E.sy.,  Pengamat Kebijakan Publik.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id


___
*)
Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com